Minggu, 15 September 2013
Walau raga tak lagi disana, tetapi jiwa akan selalu bersama, berjuang untuk Persija Jakarta #PersijaSelamanya -Bambang Pamungkas-
JakOnline - Terimakasih Bambang Pamungkas! Kalimat pertama yang membuka sebuah “hadiah” kecil, bentuk penghargaan kami, sesuatu yang mungkin tidak akan bisa membalas semua yang telah kamu berikan untuk tim kebanggaan kami, walaupun kami tau kamu pun melakukannya dengan penuh rasa cinta untuk Persija Jakarta tanpa mengharap apapun imbalannya.
Sudah kurang lebih 13 tahun kamu memberikan seluruh tetes keringat, bahkan darah ketika kamu cidera hanya untuk Macan Kemayoran, walaupun dirimu bukan putra asli Jakarta segalanya yang terbaik telah engkau berikan. 182 gol hanya untuk Persija di kompetisi sepakbola Indonesia bukan jumlah yang sedikit untuk ukuran seorang pesepakbola lokal telah kamu berikan, dan kamu pun pernah merasakan patah kaki itu juga bersama Persija Jakarta.
Raihan gelar juara untuk yang pertama kali di era Liga Indonesia bergulir kamu persembahkan untuk Persija di tahun 2000/2001 sekaligus mengukuhkan dirimu sebagai top skor di tahun yang sama, selang setahun kemudian di tahun 2001/2002 kamu menjadi pemain terbaik Liga Indonesia
Kamu juga yang berjuang bersama kami suporter Persija ketika dihadapkan dengan masalah dualisme, bahu membahu di atas keyakinan yang sama, bahwa tidak ada yang perlu diragukan, ketika Persija yang asli adalah Persija dengan dukungan The Jakmania, Persija yang sudah mengukir satu bintang diatas logo monas sebagai lambang 10 kali juara sejak era perserikatan. Dan masih banyak lagi gelar baik secara individual maupun secara tim, yang kamu sudah berikan untuk Persija Jakarta.
Ketika pemain lokal di Indonesia tidak bisa bertahan dengan waktu yang lama hanya di satu klub, kamu pun membuktikan dengan hanya membela satu klub yang juga kamu cintai Persija Jakarta dalam jangka waktu tidak sedikit yakni 13 tahun, sebuah loyalitas yang tidak usah diragukan!
Musim ini di tahun kompetisi 2012/2013 bisa disebut sebagai tahun pergolakan hati yang sangat besar, tidak hanya untuk kami suporter, tapi juga untuk dirimu, ketika dengan segala masalah dan problematika yang ada kamu dengan sangat berat hati tidak jadi bagian skuad Persija yang kami dukung. Lagi-lagi kamu membuktikan rasa cinta yang sangat besar untuk Persija dengan memilih istirahat dan tidak memperkuat klub manapun, dan mengerjakan kesibukan lain dibidang jurnalistik yang saat ini sedang kamu rintis.
Terakhir, memang terasa berat ketika menghadapi kenyataan di musim ini, tidak ada lagi teriakan “Bambang Pamungkas Macannya Persija bola ditendang langsung masuk ke gawang, sorak-sorak The Jak Bergembira hari ini raih poin 3” dan chant lain yang didedikasikan untuk kamu ketika memberikan dukungan untuk Persija di stadion, tapi kami harus tetap tegar dan roda hidup terus berjalan. Apalagi ada seuntaian kalimat yang kamu ucapkan dan membuat kami tenang, “Musim ini mungkin belum bisa memperkuat Persija, musim depan ya, kita bertemu kembali”. (Zani-JO)
Selamat ulang tahun Bambang Pamungkas, ke 33 tahun doa yang terbaik selalu meluncur dari hati kami untukmu, sampai jumpa tahun depan! #B3p3ForPersija
http://jakonline.asia/category/artikel/
Mencintaimu (Persija) Dengan Hati
JakOnline- Pukulan keras sedang menghantam tubuh salah satu kelompok supporter di negeri ini. Berapa banyak media masa yang berbondong-bondong menyudutkan The Jakmania atas peristiwa 22 Juni 2013 lalu.
Tanpa gue sebutkan, pasti kalian semua tau kejadian apa yang sampai membuat citra baik Jakmania tercoreng sekali lagi. The Jakmania jumlahnya puluhan ribu, dan kejadian kemarin hanya melibatkan beberapa orang saja. Tetap saja “Karena nila setitik, rusak susu sebelanga”.
Bahkan setelah diketahui pelaku sebenarnya belum tentu dari pihak Jakmania.
Karena korban adalah team rival, dan kejadian terjadi di Jakarta, sekali lagi Jakmania harus menjadi kambing hitam di peristiwa ini. Sudahlah..
Ambil hikmah dari semua catatan kelam ini. Bukan berarti yang lalu biarlah berlalu, tetapi mari jadikan kesalahan masa lalu sebagai pelajaran agar tidak terulang lagi di masa depan. Mulai dari hati.. Cintai Persija dengan hati. Maka semua ego dan kesombongan perlahan tersingkir demi hal yang di cintai dengan hati, Persija.
Yang diperlukan macan ini bukan pria-pria pemberani, kuat, dan keras kepala. Tapi macan ini membutuhkan mereka yang bisa berteriak lantang meneriakan namanya dari arah tribun ketika mereka berlaga. Bukan teriakan makian ke kubu lawan yang mereka pinta, tapi teriakan untuk membakar semangat di dada mereka yang mereka harapkan.
Laga terakhir menjamu Persita kemarin 26/6 SUGBK, terlihat kedewasaan Jakmania sudah terbentuk. Di beberapa tribun terlihat kelompok supporter Persita. Dan bila di flashback, Jakmania dan Viola (supporter Persita) memiliki hubungan yang kurang harmonis. Tetapi lihat sekarang! Sampai hari ini gue belum denger ada pihak Viola yang mendapat intimidasi dari pihak supporter Persija. Standing applouse untuk kita semua. Pertahankan ini, demi nama baik Persija dan Jakmania.
Anggaplah Persija seperti kekasih atau sahabat atau Ayah & ibu kalian. Sekali lagi, cintai Persija dengan hati. Jangan biarkan Persija yang menerima luka atas kesalahan yang kita perbuat.
Macan ini sudah mulai bangkit, bantu dia berjalan, bantu dia kembali berlari, bimbing dia agar kembali ingat bagaimana menerkam mangsanya. Gue percaya, kalian bisa mencintai Persija dengan hati. Dan ga mungkin ngebiarin macan ini kembali terjatuh di lubang yang sebenarnya kita buat untuk mangsa si macan.
Gue yakin, macan ini masih ingat bagaimana cara menerkam mangsa nya. Tanpa perlu campur tangan kita dan tanpa harus kita buatkan lubang, gue yakin macan ini masih mampu. Gue yakin! Berdiri saja di sisinya, teriaklah, berikan semangat untuknya, bersama sama kita kembalikan Macan Kemayoran kepada habitatnya, menjadi juara! (@rawkvicky/JO)
Persija, maafkan kami belum bisa menjadi yang terbaik untukmu.
Maaf karena kami sering mengecewakanmu.
Dan maaf atas luka yang masih sering kami berikan untukmu.
Mengaumlah sekerasnya..
Berlarilah sekencangnya..
Dan kami akan kembali menjalankan tugas kami disini, mencintaimu dengan hati.
http://jakonline.asia/category/artikel/
"Sepakbola Bukan Lagi Sebuah Profesi"
"Sepakbola Bukan Lagi Sebuah Profesi"
Penulis: bepe, 17 June 2013
“Di Indonesia sepak bola sudah menjadi sebuah profesi, di mana para pemain dibayar untuk memainkannya, dan membuat orang harus membayar untuk menyaksikannya.”
Hal tersebut tentu berkaitan dengan industri sepak bola, yang sudah dapat dijadikan sebagai sandaran hidup bagi para pelaku atau atletnya. Namun, seiring berjalannya waktu jawaban saya tersebut tampaknya sudah tidak lagi relevan, terutama dalam dua tahun terakhir. Hal tersebut berkaitan dengan begitu banyaknya kasus tunggakan gaji, yang dialami para pesepak bola profesional di Indonesia.
Hal yang paling baru adalah adanya gerakan dari para pemain PSMS Medan. Yang dalam hal ini nekat berangkat ke ibu kota untuk menemui pihak-pihak berwenang, guna mencari kejelasan mengenai hak-hak mereka yang tertunggak. Sebelas pemain tim Ayam Kinantan tersebut rela bermalam di pelataran monumen nasional, sebuah masjid di kawasan Gelora Bung Karno, serta makan seadanya dalam perjuangan mereka di Jakarta.
Dari 10 bulan durasi kontrak yang mereka tanda tangani, sampai dengan berakhirnya kompetisi, menejemen baru membayar sebesar setengah bulan saja. Oleh karena itu, mereka ingin bertemu dengan PT Liga Indonesia, PSSI, dan juga Menpora, dengan harapan dapat membantu mencari jalan keluar bagi permasalahan yang mereka alami. Bahkan mereka berniat untuk tinggal di depan kantor PSSI, sampai dengan adanya kejelasan mengenai permasalahan tersebut
Jika kita mau jujur, maka sejatinya PSMS Medan bukanlah satu-satunya tim yang mengalami permasalahan ini, dalam hal ini menunggak gaji pemain. Hampir 60% dari kontestan yang berlaga di kompetisi negeri ini, melakukan hal yang sama. Tidak terpenuhinya hak-hak dasar para pemain ini, terjadi di semua strata kompetisi di negeri ini.
Para pengurus akan melakukan apa pun untuk membuat pemain tetap bermain. Mulai dari bujukan, rayuan, janji-janji manis yang palsu, hinggalah intimidasi. Hal yang paling ampuh biasanya adalah intimidasi emosional sejarah. Intimidasi seperti ini biasanya akan membenturkan pemain dengan apa itu loyalitas, totalisan, pengorbanan, kebanggaan, harga diri, serta sejarah kebesaran sebuah klub.
Kalimat kurang lebihnya adalah: “Dahulu pemain-pemain seperti si A atau si B (legenda) berjuang mati-matian dengan bangga menjaga marwah dan harga diri klub ini, mereka rela mengorbankan apa pun. Sedang kalian baru begini saja (tidak digaji) sudah mengeluh, di mana loyalitas kalian kepada klub dan suporter kita. Bermain untuk tim sebesar ini, seharusnya sudah menjadi sebuah kebanggaan”.
Apakah ini menjadi hal yang wajar serta adil, ketika para pemain dituntut untuk berjuang menjaga harkat dan martabat klub dan daerahnya, tetapi hak-hak dasar mereka tidak diberikan? Para penonton yang bersorak menyemangati dari tribun itu, mungkin tidak sadar bahwa para pemain yang berjuang dan berjibaku menjaga harkat dan martabat tim kebanggan mereka, sejatinya tengah gamang.
Gamang karena hak mereka selama berbulan-bulan, tidak dibayarkan. Mereka resah karena di belakang mereka, terdapat banyak sekali permasalahan kehidupan yang belum terselesaikan. Satu-satunya hal yang masih membuat mereka tetap bermain, hanyalah kecintaan mereka terhadap sepak bola itu sendiri.
Banyak orang bersimpati, namun tidak sedikit yang berkomentar dengan nada sumbang. Salah satu di antaranya: “Sepak bola itu sebuah olahraga, sebuah kegiatan yang dilakukan berdasarkan hobi untuk bersenang-senang. Oleh karena itu uang hanya sebagai bonus, jadi tidak perlu dipikirkan. Itulah mengapa sepak bola Indonesia tidak maju-maju, karena yang ada di kepala pemain hanyalah uang, uang, dan uang.”
Mari kita kupas permasalah ini dengan sedikit lebih mendalam. Mengapa saya sebutkan jika sepak bola itu sebuah profesi? Karena dalam menjalankannya, para pemain terikat dengan kewajiban-kewajiban yang tertera di dalam klausul kontrak yang telah disepakati oleh kedua belah pihak, baik klub dan pemain.
Beberapa di antaranya adalah berlatih baik pagi, siang, sore, atau malam sesuai dengan kebijaksanaan klub. Bermain dalam kompetisi sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan oleh federasi. Serta harus hadir dalam segala pertemuan atau kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh klub yang bersangkutan.
Artinya, waktu keseharian pemain hampir semua tersita, untuk segala hal yang berkaitan dengan kepentingan klub. Pemain tidak berhak melakukan pekerjaan lain yang sekiranya dapat mengganggu, atau berbenturan dengan kegiatan klub. Para pemain tersebut mencurahkan semua energi dan konsentrasi mereka, hanya untuk pekerjaannya sebagai pesepak bola, dan tidak memiliki pekerjaan sampingan yang lain.
Berbeda dengan sepak bola hanya untuk kesenangan dan kepuasan pribadi semata. Jika itu pembahasannya, maka kita akan kembali ke saat di mana para pesepak bola tersebut masih kecil. Ketika sepak bola dimainkan di lapangan-lapangan berlumpur, di jalan-jalan dan di bawah guyuran hujan. Ketika itu tidak ada aturan apa pun yang mengikat para pemain dengan pihak mana pun. Pemain boleh datang dan pergi kapan saja.
Kemenangan bukan menjadi sebuah tujuan, yang ada hanya kesenangan. Tidak ada tekanan dari pelatih dan menejemen, karena memang tidak ada pelatih dan menejemen. Tidak ada juga tekanan dari penonton, karena mereka datang tanpa dipungut bayaran. Siapa pun yang mencetak gol dan menang, penonton akan bersorak gembira.
Saat para pemain tersebut masih kecil, mereka tidak memiliki beban yang menggelayut di pundak mereka. Beban dalam hal ini adalah kewajiban atau tanggung jawab untuk memberikan nafkah. Sedang ketika para pemain tersebut menjadi dewasa dan menikah, maka dengan sendirinya mereka memiliki anak, istri, atau orang tua yang harus dinafkahi.
Oleh karena itu jika kita samakan pola pikir antara pesepak bola cilik, dengan pesepak bola dewasa mengenai apa arti sepak bola bagi mereka, maka pada hemat saya kita telah salah kaprah. Orientasinya jelas lain, tekanannya lain, dan ekpektasinya pun juga lain.
Sehingga ketika para pesepak bola profesional di negeri ini memperjuangkan hak-hak mereka, dan ada pihak-pihak yang mencibir atau bahkan menertawakan. Maka ada baiknya jika Anda kembalikan permasalahan tersebut kepada diri anda sendiri. Seandainya anda bekerja berbulan-bulan dengan tanpa mendapatkan upah, apakah Anda sekalian akan diam saja? Sedang di belakang Anda ada banyak kebutuhan yang harus diselesaikan. Toh yang mereka perjuangkan adalah hak dasar mereka berupa gaji, bukan beserta dengan bonus, atau malah bunga dari tunggakannya.
Alangkah bijaksananya jika kita mampu bersikap lebih arif dalam melihat, menyikapi, serta mengomentari permasalahan keterlambatan gaji pemain ini. Karena segala permasalahan ini telah membuat para pesepak bola yang bermain di negeri ini (baik lokal maupun asing) terlantar, jatuh sakit, dideportasi, hinggalah meninggal. Permasalahan ini sudah bukan lagi menjadi permasalahan sepak bola saudara-saudara, tetapi sudah menjadi sebuah isu kemanusiaan.
BOPI, PT Liga Indonesia, dan PSSI selalu berkata: ”Bermainlah dahulu, karena dengan liga tetap berjalan maka klub akan mendapatkan pemasukan, dan dengan pemasukan tersebut klub akan dapat melunasi hak-hak para pemain.”Teorinya memang demikian, namun fakta di lapangan berkata lain. Jangankan untuk melunasi tunggakan musim sebelumnya, musim yang saat ini tengah berjalan pun banyak tim yang tetap tidak mampu membayar gaji.
Mereka mampu menggulirkan liga, menghambur-hamburkan uang untuk memelihara konflik, hingga menjalankan konggres berulang-ulang. Hal tersebut tentu memakan dana yang tidak sedikit. Namun di sisi lain, mereka tidak mampu membayar gaji para pemain.
Tidakkah pihak-pihak yang bertanggung jawab itu, tersentuh dengan segala akibat dari permasalahan berkepanjangan ini? Apakah harus menunggu hingga ada nyawa lagi yang melayang, seperti apa yang dialami oleh Diego Mendieta?
Oleh karena itu di akhir artikel ini, perkenankan saya untuk sedikit mengubah testimoni saya mengenai sepak bola di Indonesia pada awal artikel ini, dengan kalimat sebagai berikut:
“Sepak bola adalah sebuah profesi, di mana para pemain dibayar untuk memainkannya, dan membuat orang harus membayar untuk menyaksikannya. Namun di Indonesia? Tidak lagi.”
Sekian….
http://bambangpamungkas20.com/bepe/baca/artikel/umum/2013/06/17/154/sepakbola-bukan-lagi-sebuah-profesi#.UjaLZ0qzHfI
Langganan:
Postingan (Atom)

